Resensi buku Menalar Tuhan 

Pengarang : Franz Magnis  Suseno

Penerbit : Kanisius, Yogyakarta, 2010

Tebal : 245 halaman

Menalar Tuhan, itulah yang sejak permulaannya menjadi obsesi filsafat. Menggapai Tuhan melalui pikiran menjadi hasrat filsafat sampai 200 tahun lalu. Di permulaan abad ke-21, pertanyaan tentang Tuhan masih tetap berada di pusat pemikiran para filosof. Kemudian, di panggung filsafat muncul paham ateisme di mana Tuhan berada di luar batas-batas wacana rasional. Situasi ini menghadapkan manusia inteletktual yang tetap percaya pada Tuhan dengan pertanyaan: apakah imannya lebih dari sekedar warisan indah tradisi-tradisi yang sudah berumur ribuan tahun? Apakah ia dapat mempertanggungjawabkan kepercayaan pada Allah secara rasional? Apakah masuk akal masih percaya kepada Tuhan? Buku ini ditulis oleh seorang guru besar filsafat di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Franz Magnis Suseno, sebagai seorang yang beragama, mencoba meluruskan nilai dan jalan kita  melihat ketuhanan secara lebih terang benderang dengan runtutan-runtutan pemikiran yang lebih terarah dan tidak terkesan subjektif. Buku ini  yang berkembang dari kuliah-kuliah ketuhanan yang diberikannya di kampus, dimaksudkan untuk  mengsingkroniskan pertanyaan tentang: apakah orang yang ingin berpikir jujur dan berkeyakinan humanis masih dapat percaya kepada tuhan?

Barangkali orang mengatakan bahwa pertanyaan ini di Indonesia tidak mendesak. Di Indonesia orang berkesan masih kental beragama. Kesannya, masalah di Indonesia bukan kekurangan, melainkan kelebihan-kelebihan ketuhanan. Tak ada hari dimana media tidak membawa berita yang berkaitan dengan agama dan orang-orang  berketuhanan. Di Indonesia, yang menjadi masalah bukan ketuhanan, melainkan bagaimana ketuhanan dapat dihayati dengan cara yang tidak bertentangan dengan kemanusiaan yang adil dan beradab.

Buku ini terbagi dalam delapan bab. Bab pertama, sebagai bab pendahuluan, bertanya untuk apa dan bagaimana Tuhan perlu dinalar. Bab ini juga menjelaskan bahwa pada abad 20 filsafat seakan-akan mengabaikan Tuhan. Filsafat lebih cenderung memikirkan manusia dan pengetahuannya, bahasa manusia, manusia, masyarakat dan hal budaya. Tetapi tidak banyak memikirkan Tuhan. Ada beberapa sebab yang mengakibatkan filsafat mengabaikan Tuhan pada abad 20. Alasan yang paling mendasar adalah tahap ateisme yang kemudian secara diam-diam para filosof telah bersepakat bahwa filsafat tidak bisa bicara tentang Tuhan. Para filosof berpendapat bahwa hal Tuhan adalah urusan kepercayaaan masing-masing orang. Alasan yang lain menyatakan diantara orang beragama sendiri ada penolakan berpikir rasional terhadap Tuhan yang semakin kuat. Hal inilah kemudian yang mendorong untuk menalar Tuhan pada abad sekarang.

 Dalam bab kedua kita melihat betapa majemuk pengahayatan ketuhanan dalam umat manusia. Bab ini mau membantu agar kita tidak sempit mengira seluruh umat manusia mengahayati ketuhanan seperti kita sendiri. Pola-pola penghayatan dapat kita bedakan menjadi tiga. Pertama dinamakan tiga penghayat dasar ialah monisme, dualisme dan paham tuhan transenden. Kedua ialah Tiga pasang ciri penghayatan ketuhanan yang muncul dalam agama-agama dan filsafat Timur kuno yang merupakam trandensi lawan imanensi, paham penciptaan lawan paham emanasi, dan ketuhanan personal berhadapan dengan dhat impersonal.

 Bab ketiga menggariskan perubahan-perubahan mendalam dalam pengertian diri manusia di ambang modernitas dan apa dampaknya pada pengertian tentang ketuhanan.bab ini membantu menjabarkan perkembangan perubahan terbesar di Eropa pada abad ke-13 dan abad-17. Untuk memahami skeptisisme modernitas tentang ketuhanan kita harus memahami peralihan paradigma yang ada, seperti biji-biji wawasan baru di Abad pertengan, Humanisme, dqan Renasaince. Tidak hanya itu kita juga harus memahami Rasionalisme dan Pencerahan, Deisme, Paham kemajuan dan saintisme. Sebenarnya dalam bab ini hanya mempertanyakan tiga hal. Pertama bagaimana peralihan paradigma dari pandangan teosentris ke pandangan antrosentris bisa terlihat dan dinilai?.kedua pakah tekanan pencerahan dan rasionalisme pada nalar otonom harus dinilai salah kalau dilihat dari teisme. Ketiga bagaimana kepercayaan pada ilmu pengetahuan dan kemajuan kemudian dapat ditanggapi.

  Dalam bab ke-empat buku ini membicarakan secara kritis lima tokoh ateisme modern paling berpengaruh: Feurbach, Marx, Freud, Nietzsche, dan Sartre. Feurbach merupakan orang pertama yang mencoba memberikan dasar ilmiah kepada ateisme. Ia tak hanya menyangkal adanya Allah. Ia juga menjawab pertanyaan  kalau ateisme benar, kalau tidak pernah ada Allah, bagaiman kita bisa dijelaskan bahwa hampir semua umat manusia sejak ribuan tahun yang lalu percaya akan keAllahhan?. Tokoh yang kedua adalah Nietzsche yang dengan lantangnya mengatakan Allah telah mati! dan kamilah yang membunuhnya! Tak ada tindakan lebih agung (hal 76). 

Bab lima membahas apa yang oleh Magnis Suseno anggap sebagai tantangan terbesar terhadap penalaran tentang Tuhan, yaitu agnostisisme, anggapan  yang bertolak dari epistemologi Immanuel Kant  bahwa tentang Tuhan kita tidak dapat mengetahui sesuatu, jadi bahwa filsafat harus diam tentang Tuhan. Pembahasan ateisme dan agnostisme membuka jalan untuk bertanya secara positif: dapatkah nalar menemukan  petunjuk-petunjuk tentang adanya Tuhan?. Bab ini juga mendeskripsikan bagaimana kritik ateisme memang gagal. Ia gagal dalam dua hal. Yang pertama gagal membuktikan ataupun memberikan pendasaran objektif dan meyakinkan bahwa Allah tidak mungkin ada. Yang kedua adalah gagal dalam usaha untuk memberikan penjelasan meyakinkan tentang fenomena agama.

 Bab enam membicarakan tiga jalan ke Tuhan yang sudah klasik, argumen ontologis, argumen kosmologis dan argumen teologis. Jalan-jalan ini mau menunjukan bahwa apa yang kita temukan di alam pengalaman, tidak dapat dijelaskan kalau tidak ada Tuhan. Kita akan melihat bahwa, meskipun tiga jalan ini memang menunjuk pada Tuhan, tetapi juga mempunyai kelemahan-kelemahan serius. Rahner bertolak dari kenyataan bahwa dalam setiap perubahan selalu terjadi sesuatu yang baru (secara kosmologi).

Di bab tujuh Magnis  Suseno mengikuti cara yang berbeda. Ia tidak lagi menarik kesimpulan dari realitas duniawi ke Tuhan, melainkan mencoba menunjukan, degan bertolak dari empat penghayatan, bahwa manusia, dalam pengalamannya dengan dunia, selalu sudah bersentuhan dengan Tuhan dan bahwa dalam arti ini  para filosof menyebutnya trasendental  manusia mempunyai pengalaman tentang Tuhan, meskipun sebagai latar belakang dan bukan sebagai objek. Di antara empat penghayatan ini yang akan kelihatan bersentuhan dengan Tuhan dengan paling mengesankan adalah hati nurani. Hati nurani yang kemudian diartikan moral yang dianggap secara mutlak. 

 Dalam bab delapan buku ini membahas hubungan antara Tuhan dan dunia. Di antaranya dibahas masalah bahasa tentang Tuhan, penciptaan dan pertanyaan apakah kemahakuasaaan Tuhan masih mengizinkan ruang bagi kebebasan manusia. Sebagai bahasan akhir, Magnis Suseno mengangkat masalah yang sejak lama dianggap masalah filsafar ketuhanan paling berat, yaitu bagaimana, kalau ada Allah yang mahatahu, mahakuasa dan mahabaik, bisa ada sedemikian banyak kejahatan dan penderitaan di dunia. Ada dua kesimpulan yang kemudian dapat ditarik yang pertama adalah kita tidak melihat mengapa Allah mengizinkan penderitaan, meskipun filsafat tak dapat menjawab. Kedua, penjelasan dari perbedaan antara hasil tidak ditampilkan,dikarenakan pengajakan untuk percaya bahwa segala penderitaan akan menjadi baik.

Buku ini ditulis bagi mereka yang percaya kepada Tuhan dan juga bagi mereka yang tidak lagi percaya kepada Tuhan, yang percaya tentunya akan bertambah keimanannya, dan yang masih atheis atau agnotis (meragukan tuhan) tentunya bisa merasakan sensasi fatasi untuk mempercayai tuhan walaupun dengan afirmasi kata-kata. Dalam kejujuran intelektual buku ini ingin ingin mendalami pertanyaan tentang dasar-dasar rasional kepercayaan akan Tuhan. Buku ini bukan mengenai agama, melainkan mengenai Tuhan, ya Allah bagi mereka yang percaya pada satu Tuhan mewahyukan diri

Iklan

Akar may day

​ Tahun 1806 para pekerja Cordwainers  aksi mogok kerja sekaligus menjadi titik cahaya baru buruh internasional. Aksi mogok yang masif ini berhasil membawa ke meja pengadilan yang mengangkat fakta-fakta miris dan tragis pada buruh. Para buruh pada saat itu diketahui bekerja selama 19 sampai 20 jam setiap harinya. Mereka memperjuangkan untuk direduksinya jam kerja buruh di Amerika Serikat.

Pada saat itu, para buruh tidak hanya melakukan aksi mogok sekali. Aksi demontrasi terus dilakukan hingga perjuangan mereka memperoleh hasil. Aksi mogok kerja ini memunculkan dua tokoh besar yang dianggap berperan besar menyumbangkan ide untuk para buruh. Mereka adalah Peter McGuire dan Matthew Maguire mereka adalah pekerja mesin dari New Jersey. Mereka melakukan komunikasi dengan para buruh, pengangguran serta meminta kepada pemerintah agar memberikan pekerjaan dan uang lembur para buruh. Hal ini membuat McGuire terkenal dengan sebutan “pengganggu ketenangan masyarakat”

FESTIVAL HARI BURUH PERTAMA DI AMERIKA
New York adalah tempat pertama festival hari buruh terbesar. 20.000 orang melakukan aksi dengan membawa spanduk bertuliskan 8 jam kerja, 8 jam istirahat dan 8 jam rekreasi”. Spanduk ini sebagai ungkapan hati para buruh khususnya America Serikat. Ini terjadi pada 5 September 1882 yang selanjutnya menyebar ke negara-negara tetangga dan disambut dengan baik meskipun belum ditetapkan sebagai hari libur nasional.
Tahun 1887, Oregon menjadikan hari libut umum. Oregon merupakan negara bagian yang pertama kali melakukan terobosan besar bagi negara lain.

Pertumpahan darah Haymarket 1886 Hingga Kongres Penetapan May Day

1 Mei 1886 terjadi demontrasi buruh besar-besaran di Amerika Serikat. Sekitar 400.000 buruh masih mengusung tuntutan yang sama, pengurangan jam kerja menjadi 8 jam sehari bagi para buruh. Tidak tanggung – tanggung, kali ini aksi demonstrasi berlangsung selama 4 hari, sejak 1 Mei hingga 4 Mei 1886.  Aksi heroik terjadi oada 4 Mei  buruh melakukan pawai besar – besaran, namun polisi Amerika menembaki para demonstran secara membabi – buta. Para pemimpin aksi demonstrasi besar – besaran ini ditangkap dan dihukum mati, namun saat penembakan yang membabi – buta tersebut terjadi, ratusan orang tewas tertembus timah panas polisi Amerika, peristiwa ini dikenal sebagai peristiwa Haymarket. Ratusan buruh yang tewas dikenal sebagai martir.

Kemudian di tahun 1889 diselenggarakan nya Kongres Sosialis Dunia di Paris, dalam pertemuan ini disepakati bahawa peristiwa heroik yang terjadi di Amerika pada tanggal 1 Mei 1886 sebagai hari buruh internasional dan melahirkan sebuah resolusi yang disambut baik oleh beberapa negara sejak 1890. Dan setiap tanggal 1 Mei parah buruh memperingati hari buruh atau lebih dikenal sebagai May Day meskipun mendapat banyak sekali tekanan dari pemerintahan mereka.

May Day di Indonesia
1920 sebagai tonggak awal hari buruh di Indonesia.  Faktanya, kekhawatiran pemerintah bahwa gerakkan massa buruh yang dianggap akan menimbulkan kerusuhan serta mengganggu ketertiban umum tidak pernah terjadi di lapangan. Aksi May Day yang dilakukan buruh malah membuahkan hasil yang baik bagi para buruh di Indonesia. Hingga saat ini, 1 Mei menjadi hari dengan gerakan besar di seluruh Indonesia, gerakan ini terjadi di berbagai kota besar dan kota kecil di seluruh Indonesia. Setelah masa orde baru berakhir, tanggal 1 Mei kembali menjadi peringatan hari buruh di Indonesia. Faktanya, kekhawatiran pemerintah bahwa gerakkan massa buruh yang dianggap akan menimbulkan kerusuhan serta mengganggu ketertiban umum tidak pernah terjadi di lapangan. Aksi May Day yang dilakukan buruh malah membuahkan hasil yang baik bagi para buruh di Indonesia. Hingga saat ini, 1 Mei menjadi hari dengan gerakan besar di seluruh Indonesia, gerakan ini terjadi di berbagai kota besar dan kota kecil di seluruh Indonesia.

Aku, kau dan narkotika

Gedung Yos Sudarso, Duren Sawit, Jakarta Timur Minggu , 19 April 2018
Dewasa ini marak sekali gejala sosial yang mengubah tatanan prilaku anak muda. Tatanan tersebut telah mengubah dan menyimpang mulai dari tatanan budaya, sosial hingga pendidikan. Hal itu terlihat tingkah dan pola akhlak dari anak muda tersebut.
Badan Narkotika Nasional Republik Indonesia hari ini melakukan diskusi dan sharing jaman now. Acara ini diadakan dalam rangka menciptakan generasi millenial yang akan menjadi pegiat anti narkoba. Diskusi ini menjelaskan bagaimana anak muda berusia 12-17 menjadi paling rentan sebagai pemakai narkoba. Hal ini didasari oleh rasa keingintahuan terhadap narkoba itu sendiri. Narkotika didefinisikan sebagai zat atau obat yg berasal dari tanaman zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman baik sintetis maupun semi sintetis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri, dan dapat menimbulkan ketergantungan, yang dibedakan ke dalam golongan-golongan sebagaimana terlampir dalam undang-undang ini atau yang kemudian ditetapkan dengan Keputusan Menteri Kesehatan. Secara umum narkotika dibagi menjadi tiga golongan dan memberikan efek stimulan, halusinogen dan depresan.

Narkotika sendiri beredar karena adanya media. Media ini bisa berupa orang dan waktu. Namun hal tersebut dapat dilakukan dengan beberapa cara. Yang bisa dilakukan dengan membentengi diri sendiri. Membentengi diri dari media tersebut adalah dengan merubah mindset dengan kegiatan yang bermanfaat seperti menghabiskan waktu dengan olahraga atau membaca buku. Pemuda yang tertular narkotika ditandai dengan berbohong dengan apa yg dilakukan. Perilaku ini menjadi awal pembodohan terhadap diri sendiri dan masa depan generasi bangsa.

Dalam diskusi ini juga memaparkan penyebab bagaimana narkotika secara cepat bisa mempengaruhi pemuda di antaranya karena kurangnya pengawasan dari orang tua, faktor pribadi dan faktor lingkungan.

Fanatisme dalam beragama

Menelisik kembali pada akhir tahun 2016 telah terjadi fenomena yang kemudian dianggap sebagai sebuah momentum kebangkitan umat islam. Hal ini menjadfi sangat viral dan kontroversial. Kontroversial karena hal ini menyinggung tentang pernyataan Gubernur DKI non aktif, Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok, tentang surat Al-Maidah ayat 51 pada saat kunjungan ke Kepulauan Seribu pada oktober 2016. Hal tersebut kemudian disebut oeh umat islam sebagai penistaan agama dan hal ini menyebabkan umat islam melakukan aksi bela islam 212. Namun ada beberapa pihak lain yang mengaanggap pak Ahok tidak secara harfiah menistakan agama Sebenarnya apakah yang mendasari mereka melakukan hal itu? Apakah ini didasarkan oleh kepentingan lainnya? Lalu apakah ini kemudian disebut fanatisme dalam beragama?
Setelah diamati hal yang mendasarinya ialah pertama, sebagai umat islam mereka merasa rasa cinta terhadap agamanya atau bisa dikatakan solidaritas beragama. Namun jika ini disebut solidaritas beragama mengapa hal ini didasari dengan kebencian terhadap Ahok bahwa Ahok keturunan Tionghoa yang kemudian berimbas pada keyakinan yang dianutnya serta berujung pada dunia politik. Fanatisme yang dibangun dalam kasus ini adalah fanatik atas dasar kebencian yang berawal dari kepemimpinan Ahok yang digadanng-gadangkan menjadi objek yang sangat dasar dan dikecam sebagai peluru mematikan Ahok. Yang kedua adalah membawa agama dalam hal perpolitikan. Ini terlihat dari banyaknya yang melaporkan Ahok dan menjadikannya sebagai tersangka. Menurut saya dalam pidato tersebut Ahok tidak menistakan agama atau menodai, hanya saja ada oknum yang kemudian sengaja menjadi provokator sehingga masalah ini berujung pada aksi bela islam 212.
Beberapa ulama besar agama juga mengatakan hal tersebut menistakan agama. Hal ini lebih didasarkan pada menafsirkan ayat tersebut dengan perspekstif yang saya anggap sebagai rasa benci berjamaah terhadap Ahok itu sendiri. Umat islam juga mengatakan bahwa Ahok tidak bisa menafsirkan surah Al-Maidah secara benar karena dia bukan islam.lantas apakah sebenarnya hal yang sangat diionginkan oleh umat islam ?. dari segi yang kontra nya memang seperti ini. Namun jika dari segi yang selalu mendukung Ahok mereka juga melakukan kefanatikan mereka dengan berempati melakukan aksi solidaritas menyalakan 1000 lilin untuk Ahok di tugu Proklamasi . aksi menerangkan gelap dengan cahay tak hanya di jakarta, juga tampak di beberapa kota seperti Jogja, Manado, Kupang hingga Jayapura.kejadian ini seperti ini mata langka, seorang politisi di era sekarang mampu menarik simpati masyarakat dari berbagaiwilayah untuk menyuarakan bentuk dukungannya. Mereka menilai ada ketidakadilan dalam kaitannya dengan putusan Majelis Hakim.
Terlalu naif jika tidak ada yang mengatakan bahwa kemunculan dua kubu masyarakat yang terbelah ini sebagai imbas dari pilkada DKI Jakarta 2017 antara politik identitas dan dan politik nasional. Kedua kubu diatas tadi jelas saja berusaha menuntut keadailan versi mereka. Namun apakah para pendukung Ahok ini bisa digolongkan ke dalam bentuk fanatisme? Dari banyak pernyataan di atas dapat diuraikan beberapa kesimpulan bahwa ini kehidupan umat beragama masih belum dapat tercapai titik kedewasaan, dalam kurun waktu yang singkat banyak terjadi konflik, bahkan menimbulkan peperangan hanya karena satu alasan perbedaan suatu pandangan dalam peribadatan dan kurangnya toleransi untuk menjaga keharmonisan hubungan sosial.Konflik umat beragama tidak dimulai baru-baru ini saja, namun sudah terjadi sejak zaman lampau (1095-1291), pada saat itu terjadinya perang salib yaitu perang antara umat kristiani dengan umat muslim untuk merebut kembali yerusallem dan tanah suci, dan dalam konteks sosial perang salib merupakan konflik agama yang terbesar hingga abad ini walaupun bukan konflik karena fantisme.
Indonesia merupakan negara Bhineka Tunggal Ika dan merupakan masyarakat majemuk yang harus di toleransi, yang terdiri dari banyak suku, agama, budaya, yang harusnya dapat saling memberikan toleransi dan bersikap tempo seliro, wujud ketidak harmonisan hubungan sosial umat beragama masih sering terjadi hingga saaat ini. Faktor terbesar yang menciptakan kisruh dalam kehidupan umat beragama adalah fanatisme, faham ini dapat menciderai kerukunan masyarakat sosial, fanatisme adalah musuh dari adanya sebuah kebebasan, kebebasan disini di maksudkan pada semua individu dapat saling menghormati dalam segala aspek proses peribadatan, selama proses tersebut tidak merugikan kepercayaan dan mengganggu keyakinan yang lainnya.kehidupan umat beragama sendiri merupakan suatu konsep tatanan perbedaan keyakinan yang di anut dalam suatu kehidupan sosial masyarakat dalam melakukan interaksi berdasarkan konsep ketuhannan. yang sebenarnya kehidupan itu harus berjalan seiring dan tidak saling mengganggu, konsep ini akan sesuai dengan konsep manusia sebagai makhluk sosial.

Bhinneka Tunggal Ika sebagai Masa Depan Bangsa

Bhinneka Tunggal Ika sebagai Masa Depan Bangsa

Belajar dari pengalaman masa lalu atau bisa dikatakan sejarah merupakan sebuah filosofi yang harus direalisasikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Jika kita mengorek masa lalu bangsa Indonesia yang telah melewati manis pahitnya perjuangan sebagai bangsa yang besar. Indonesia harus mencoba menghidupkan semangat para founding fathers dalam menyatukan segala bentuk perbedaan dalam merumuskan dasar Negara. Falsafah yang diangkat para founding fathers tersebut adalah Bhinneka Tunggal Ika. Bhinneka Tunggal Ika ini memiliki makna “ Berbeda-beda tapi tetap satu jua”. Indonesia merupakan Negara kepulaaun yang terdiri dari beribu-ribu pulau dimana setiap daerah memiliki adat istiadat, bahasa, aturan, kebiasaan dan lain-lain yang berbeda antara yang satu dengan yang lainnya. Namun jika dilihat kenyataan ini Indonesia dilanda bencana besar yang melebihi bencana alam yaitu intoleransi dalam berbagai aspek kehidupan. Seolah-olah apa yang yang tercantum dalam pembukaan Undang-undang 1945 hanya tinggal sebuah goresan tinta yang tak berguna. Bagaimana tidak? Tujuan bangsa Indonesia yang berbunyi “Ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi…” semuanya hanya tabu dan fiktif belaka.
Sebenarnya pemahaman nilai-nilai Bhinneka Tunggal Ika dalam masyarakat dapat terwujud secara integral dengan kerja sama seluruh komponen bangsa , baik oleh pemerintah selaku penyelenggara negaraa maupun setiap insan pribadi warga. Peningkatan nilai sosialisasi dan aktualisasi pemahaman nilai-nilai ke-Bhinneka Tunggal Ika-an harus dilakukan melalui melalui tindakan nyata dalam kehidupan keseharian seluruh komponen warga dalam rangka memperkuat integrasi nasional, karena Indonesia dalam keberagaman budaya, suku, etnik, bahasa, agama, kondisi geografis, dan strata social yang berbeda. Indonesia dengan gambaran masyarakat majemuk yang terdiri dari suku-suku bangsa yang berada di bawah kekuasaan sebuah system nasional , termasuk di dalamnya pemerintah yang menjalankan proses pembangunan masyarakat harus sinergis untuk bersama-sama dengan rakyat tanpa membedakan keragaman budaya, bahasa, agama, suku/etnik, dan bahkan strata social, mewujudkan cita-cita bangsa sesuai komitmen bersama, berlandaskan nilai-nilai kebhinnekaan yang termaktub dalam Pancasila. Ciri kemajemukan masyarakat Indonesia yang terintegrasi secara nasional adalah sangat penting sebagai kekayaan dan merupakan potensi yang dapat dikembangkan sehingga dapat dikembangkan sehingga dapat dimanfaatkan dalam system komunikasi sebagai acuan utama bagi yang menunjukan jati diri bangsa Indonesia sebagai nasionalisme.
Namun tanggung jawab pemuda dalam menciptakan toleransi berdasarkan Bhinneka Tunggal Ika harus dikobarkan. Semangat itu harus dimulai dengan memaknai bahwa Indonesia merupakan Negara yang lahir dan ada karena perbedaan. Baik perbedaan Suku, Agama Ras dan Antar golongan telah menggoreskan sejarah pelanggaran HAM yang masih berkelanjutan sampai sekarang. Tanggung jawab untuk menghidupkan kembali bhinneka tunggal ika bisa dimulai dari upaya pemahaman sejarah perjalanan bangsa Indonesia. Bagaimanapun caranya pemuda harus mengingat kembali sejarah bangsa ini. Kita harus belajar dan menjadikan sejarah sebagai alat pemersatu bangsa, terutama sejarah bagaimana founding fathers merumuskan pancasila. Para founding fathers menghilangkan semua perbedaaan yang ada diantara mereka dalam merumuskan dasar Negara. Mereka menyadari Bhinneka Tunggal Ika harus dikedepankan. Tanpa adanya kesadaran sikap untuk menjaga Bhinneka Tunggal Ika pastinya akan terjadi berbagai kekacauan di dalam kehidupan berbangsa dan bernegara dimana setiap orang hanya mementingkan dirinya sendiri atau daerahnya sendiri tanpa peduli kepentingan bersama. Bila hal tersebut terjadi pastinya Negara kita akan terpecah belah.
Di era reformasi ini, kemajemukan masyarakat cenderung menjadi beban daripada modal bangsa Indonesia, hal ini terlihat dari munculnya berbagai masalah yang sumbernya ialah kemajemukan. Sebagai salah satu masalah utama dari krisis besar itu adalah ancaman disintegrasi bangsa yang hingga saat ini masih belum mereda. Kesadaran akan pentiingya kerukunan antaragama, suku, ras, dan budaya harus selalu diwujudkan melalui pemahaman integrasi nasional. Sudah waktunya kita melampaui tantangan-tantangan integrasi bangsa. Kita harus benar-benar menyadari bahwa Bhinneka Tunggal Ika sebagai semboyan bangsa Indonesia bukan sekedar semboyan belaka melainkan harus kita realisasikan sebagaimana cita-cita bangsa kita, oleh sebab itu marilah kita jaga Bhinneka Tunggal Ika dengan sebaik-baiknya agar kesatuan dan persatuan bangsa dan Negara Indonesia tetap terjaga dan kita pun harus sadar bahwa menyatukan bangsa ini memerlukan perjuangan yang panjang yang dilakukan oleh para pendahulu kita dalam menyatukan wilayah republic Indonesia menjadi Negara Kesatuan.